Sunday, March 30, 2008

Puisi nya Wiji Tukul

_________________________________


Peringatan


Jika rakyat pergi

Ketika penguasa pidato

Kita harus hati-hati

Barangkali mereka putus asa


Kalau rakyat bersembunyi

Dan berbisik-bisik

Ketika membicarakan masalahnya sendiri

Penguasa harus waspada dan belajar mendengar


Bila rakyat berani mengeluh

Itu artinya sudah gawat

Dan bila omongan penguasa

Tidak boleh dibantah

Kebenaran pasti terancam


Apabila usul ditolak tanpa ditimbang

Suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan

Dituduh subversif dan mengganggu keamanan

Maka hanya ada satu kata: lawan!


______________________________________________


Sampai di Luar Batas


Kau lempar aku dalam gelap

Hingga hidupku menjadi gelap

Kau siksa aku sangat keras

Hingga aku makin mengeras

Kau paksa aku terus menunduk

Tapi keputusan tambah tegak

Darah sudah kau teteskan

Dari bibirku

Luka sudah kau bilurkan

Ke sekujur tubuhku

Cahaya sudah kau rampas

Dari biji mataku

Derita sudah naik seleher

Kau menindas

Sampai

Di luar batas


Wiji Thukul,17 November 1996


_____________________________________________


Bunga dan Tembok


Seumpama bunga

Kami adalah bunga yang tak

Kau hendaki tumbuh

Engkau lebih suka membangun

Rumah dan merampas tanah


Seumpama bunga

Kami adalah bunga yang tak

Kau kehendakiadanya

Engkau lebih suka membangun

Jalan raya dan pagar besi


Seumpama bunga

Kami adalah bunga yang

Dirontokkan di bumi kami sendiri


Jika kami bunga

Engkau adalah tembok itu

Tapi di tubuh tembok itu

Telah kami sebar biji-biji

Suatu saat kami akan tumbuh bersama

Dengan keyakinan: engkau harus hancur!

Dalam keyakinan kami

Di manapun – tirani harus tumbang!


_____________________________________________


Aku Masih Utuh dan Kata-kata Belum Binasa


aku bukan artis pembuat berita

tapi aku memang selalu kabar buruk buat

penguasa


puisiku bukan puisi

tapi kata-kata gelap

yang berkeringat dan berdesakan

mencari jalan

ia tak mati-mati

meski bola mataku diganti

ia tak mati-mati

meski bercerai dengan rumah

ditusuk-tusuk sepi

ia tak mati-mati

telah kubayar yang dia minta

umur-tenaga-luka


kata-kata itu selalu menagih

padaku ia selalu berkata

kau masih hidup


aku memang masih utuh

dan kata-kata belum binasa


(Wiji Thukul.18 juni 1997)

6 comments:

Anonymous said...

keep up the good work bro! viva social werke!

catatan-anistick said...

Pusis Wiji Tukul masih berlaku hingga sekarang.
Reformasi masih melempem...

catatan-anistick said...

Pusinya Wiji Tukul masih berlaku hingga sekarang.
Reformasinya masih melempem...

hartono said...

kuingin membayar darahmu dengan keringatku. walau engkau telah pergi tapi engkau telah semaikan biji-biji bunga keberanian

hartono said...

darahmu akan kubayar dengan keringatku

Anonymous said...

beliau adalah sosok..............pejuangproletar................radikalpeople............hanya ada 1kata untuk penindasan..........................................................................."LAWAN"..................